Wednesday, August 05, 2009

At A Cozy Afternoon

Jika ada lagi pengalaman yang membuat saya cukup amaze, maka pengalaman itu terjadi kira-kira awal November tahun lalu.. Sore itu saya diajak dua teman dekat dan seorang teman lainnya menemui Iwan Abdurrahman (Abah Iwan) untuk suatu urusan di kediamannya yang serba hijau di daerah Cigadung Raya.

Memasuki gerbang rumahnya yang tinggi.. kami dibuat ternganga.. “what a house!!” Begitu kira-kira yang ada di benak kami masing-masing saat kendaraan yang kukendarai melaju memasuki pekarangan rumahnya yang luas.. kontur tanahnya yang berbukit serta ditumbuhi pepohonan pinus di mana-mana.. and guess what?? Ternyata ada pula pohon bunga sakura yang sedang mekar di sana.. dua buah bangunan rumahnya sendiri samar-samar terlihat dari sela-sela jajaran pohon-pohon pinus di tanah yang berbukit itu.. Rumah ala country di Amerika atau Eropa sana.

Sore itu baru saja hujan.. dan pemandangan di kediaman musisi sekaligus salah satu ‘mbah’-nya Wanadri ini betul-betul membuat kami takjub! Rupanya di antara keruwetan Bandung, pemandangan yang serba hijau dan asri yang menyejukkan hati masih bisa ditemui.. Setelah kendaraan terparkir, kami pun turun dari kendaraan dan mengikuti instruksi penjaga rumah yang ramah untuk menemui beliau di sebuah bangunan rumah yang terletak di atas tanah berbukit itu.. Kami lalu berjalan menaiki tanah berbukit itu, sementara pohon-pohon pinus berdiri di kanan kiri kami, serta aroma kayu yang menyegarkan tercium lewat hembusan angin.. “wow”!!

“Beginilah jika seseorang mencintai alam dan lingkungannya, maka Tuhan akan menganugerahkan keindahannya pada orang tsb.” Kalimat itu tiba-tiba saja terucap dari mulut saya, sementara teman-teman saya lainnya juga sibuk dengan ketakjubannya masing-masing.

Kami pun tiba di sebuah bangunan yang bernuansa country itu.. untuk sampai di pintu depan rumah tersebut, kami musti menaiki beberapa anak tangga terlebih dulu... Setibanya di depan pintu, seseorang kemudian menyambut akrab dan hangat kedatangan kami.. “Mangga-mangga leubeut..” Setelah melepaskan alas kaki, kami pun mengikuti pria tsb masuk ke dalam bangunan rumah..

“Ngobrol-ngobrolnya kita di ruang bawah tanah aja ya..” Ujarnya seraya berjalan menuju ruangan yang dimaksud.. kami lalu mengikutinya.. menuruni anak tangga sampai kemudian memasuki sebuah ruangan yang mirip ruang tamu itu.. kami lalu duduk di sana ditemani pria yang amat friendly itu ngobrol sambil menanti abah Iwan datang.. Seorang pelayan rumah kemudian menawari kami minum.. “Mau minum apa mbak, teh, kopi, atau air putih saja?” Kami pun sepakat memilih teh saja.. Akang pelayan pun pergi membuatkan teh untuk kami, dan tak lama kemudian ia sudah kembali menyuguhkan teh hangat dan sebuah stoples berisi gula putih untuk kami.. Sambil ngobrol, sesekali kami mengamati ruangan yang berdinding batu alam itu, gambar-gambar ala country tertancap di sana, ada juga piano tua berdiri di ruangan itu.. Pintu keluar terbuka lebar.. Pemandangan pohon-pohon pinus itu pun kembali terlihat... Kami seolah sedang berada dalam sebuah rumah di tengah hutan pinus Amerika sana..

Saya membayangkan, mungkin piano itu sering dipakai Abah Iwan untuk menciptakan lagu-lagu serta syairnya yang indah.. Vina Panduwinata pernah menyanyikan beberapa karya Iwan Abdurahman dan memenangkan berbagai penghargaan dalam dan luar negeri… Tak lama sosok yang dinanti pun muncul.. Beliau menyambut kami ramah seraya bersalaman… Sambil membahas maksud dan tujuan kami menemuinya.. kami ngobrol banyak sekali dengan beliau tentang alam dan lingkungan di kota Bandung.. di luar dugaan.. Abah Iwan ini begitu ramah dan bersahabat.. tak terasa kami ngobrol lebih dari satu jam, sharing dan tentu saja kita diajak untuk berkontemplasi.. merenungkan alam terutama lingkungan tempat kami tinggal ini dengan segala kesemrawutannya yang tak jarang kami serapahi ini..

Di antara obrolan itu, Abah Iwan membahas tentang bunga flamboyant, salah satu judul lagu ciptaannya.. Apakah flamboyant berguguran itu kini sudah tak dapat lagi dijumpai di Bandung yang tak seindah dulu?? (Ini pula mungkin pertanyaan yang sering hinggap di benak masyarakat Bandung lainnya atau paling tidak yang tau lagu Flamboyan).. Dan inilah jawaban beliau.. Bunga Flamboyant masih bisa dinikmati… daun-daunnya masih berguguran meski tidak seperti karpet merah yang ada di dalam syair lagu Flamboyant.. Coba amati di daerah Jl. Supratman dan Dr. Cipto, pada bulan September dan Oktober.. maka flamboyant itu ada, bermekaran dan berguguran…(bahkan pohon bunga flamboyan yang dulu menginspirasi Abah menulis lagu Flamboyan itu pun masih ada di daerah Dr. Cipto)..


Sayangnya fenomena Flamboyan ini tidak banyak disadari oleh kebanyakan masyarakat Bandung kini.. Benak kita sudah terlalu banyak dipenuhi dengan gambaran Bandung yang semrawut, sesak, macet, panas, dan citraan buruk lainnya.. sehingga fenomena sederhana namun sesungguhnya indah itu tak dapat kita lihat.. jiwa dan batin kita sudah banyak dipenuhi kekesalan, sehingga hal sederhana yang justru menyimpan keindahan luput dari pantauan kita.. Abah pun mengakui dirinya dulu pernah marah dan berserapah.. tapi kemudian ia menghitung setiap serapah yang keluar dari mulutnya itu, dan menggantinya dengan menaman sejumlah tanaman sesuai jumlah serapah yang pernah keluar dari mulutnya di tempat-tempat tandus.. Jadi alih-alih berserapah lebih baik ganti saja dengan menanam pohon..

..Hmmmm andai bisa semudah itu kami menutup mulut, berhenti ngeyel melihat berbagai kesemrawutan itu, sementara segelintir orang yang punya kepentingan enak-enak saja mengeruk keuntungan demi keuntungan di atas kesemrawutan dan perusakan kota yang dulu dijuluki Paris van Java ini!

Tapi Abah, sungguh kami betul-betul melupakan kesumpekan kota ini di tengah obrolan sore yang hangat itu, di tengah udara dingin di antara pepohonan pinus, rintik-rintik kecil hujan yang kembali turun..

Sebelum pulang di sore menuju Maghrib itu, Abah mengajak kami terlebih dulu berkeliling ke setiap ruangan di rumah itu... ada sebuah kamar tamu yang ranjang tidurnya menghadap jendela yang menyuguhkan pemandangan bukit pepohonan pinus.. “what a life!!!” Persis seperti ungkapan seorang bayi lucu yang mulutnya tersenyum lebar yang terpampang di dinding kamar itu.. Kemudian abah mengajak kami ke bangunan rumah yang lain yang didiaminya bersama keluarganya yang terletak di bawah bukit.. dinding luar rumah itu dipenuhi dedaunan yang merambat yang sumber pohonnya tumbuh di dalam ruang tamu kediaman Abah.. It takes 20 years untuk bisa berdaun lebat menutupi seluruh dinding luar rumah itu..

Sore sudah hampir Maghrib, pada akhirnya kami pun pamit pulang.. dan Abah sendiri yang membukakan pintu gerbang sambil membantu memberi aba-aba padaku yang memegang setir mobil hingga melaju meninggalkan kediamannya.. Terima kasih Abah, sungguh sore yang indah!

pic taken from : http://people.uleth.ca/~holzmann/nz/

Sunday, March 15, 2009

Pilih-Pilih Teman?? Why Not??

Not everyone is an appropriate match. If there’s someone in your life who makes you feel bad about yourself, doesn’t share any of your interests or values, or is someone that you just don’t mesh well with, it’s perfectly acceptable to put that relationship on the back burner, let it fade away altogether, or not develop it in the first place. Even if you were at one time very close, people change and grow in different directions. It doesn’t mean there’s something ‘wrong’ with either of you, but if someone in your life is no longer good for you, it’s perfectly acceptable to let them go. (Conversely, if you’d like to keep them in your life out of loyalty, albeit in a periphery role, that’s okay, too. However, it would be beneficial to remember not to count on them for support, if they’re not able to give it to you.) Only you know if the relationship is worth keeping or not, but it’s important to have several people you can count on for support in your life.

Sunday, December 28, 2008

????!!!!

Monday, October 20, 2008

Afghanistan, Islam Radikal, dan Nick Danziger

..judul postingan kali ini mungkin kelewat 'wah'.. sebetulnya saya baru saja membaca kisah sejati dari majalah Femina edisi tahun 1999, tentang seorang wartawan foto kenamaan asal Inggris Nick Danziger yang mengadopsi anak-anak korban perang dari Afghanistan.


Dulu, Ibu saya berlangganan Femina sejak tahun 80-an hingga akhirnya berhenti berlangganan tahun 2003an.. Dan kami masih menyimpan tumpukan sisa-sisa majalah Femina yang tak kami jual atau berikan pada orang lain.. Biasanya kami membacanya kembali di saat-saat luang atau bahkan tidak sama sekali..



Dan, kisah sejati tentang tiga bocah malang Afghanistan yang diadopsi pria Inggris ini sebetulnya bukan pertama kalinya saya baca, hanya saja kali ini koq ada 'perhatian' lebih.. mungkin karena ingatan akan carut marutnya Afghanistan melekat cukup dalam setelah membaca novel "The Kite Runner" belum lama ini.. Perang saudara, terorisme, ledakan bom dan senjata api di mana-mana, kemiskinan, kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, fanatisme yang buta.. itulah beberapa kelumit cerita pahit tentang Afghanistan yang selama ini saya tahu baik dari novel, film, atau pun berita dari media massa.



Saya memang belum pernah menginjakkan kaki di tanah yang kini identik dengan sarang terorisme itu, tapi informasi yang saya dapat mengenai Afghanistan paling tidak membuka mata saya bahwa Islam radikal serta fanatisme buta itu memang ada dan menyengsarakan umat. Sungguh kontras dengan esensi Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, agama yang membawa rahmat dan keberkahan bagi seluruh umat..





Kembali saya hanyut dengan kisah pilu dari Afghanistan lewat kisah sejati Nick Danziger yang dikisahkan kembali oleh majalah Femina itu.. Sebagai wartawan foto, Nick Danziger telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk keliling dunia memotret berbagai kejadian penting dari segala penjuru dunia.. Tak tanggung-tanggung, tanah yang penuh dengan konflik peperangan pun ia jejaki, salah satunya Afghanistan..



Saat bertugas di tanah persembunyian Osama bin Laden itulah, Nick bertemu dengan tiga bocah malang asal setempat.. Mereka adalah kakak beradik Khadija dan Farishta, serta seorang anak laki-laki Satar.. Khadija dan Farishta adalah penghuni rumah penampungan anak-anak yatim piatu di Kabul. Kondisi penampungan itu amat memprihatinkan.. Bersama 14 anak lain yang usianya antara 2 sampai 12 tahun, mereka hidup berhimpitan di ruangan kecil. Kurang makanan dan obat-obatan. Di negeri yang sedang bergejolak karena peperangan itu juga lah mereka menghabiskan waktunya dalam ketakutan. Khadija dan Farishta harus berhenti sekolah saat menginjak usia 8 tahun, karena mereka perempuan. Sedangkan Satar tak bersekolah karena ia cacat folio.



Pertama kali Nick bertemu Khadija dan Farishta tahun 1989, waktu itu Khadija berusia 4 tahun dan Farishta 2,5 tahun. Tahun 1990, ketika Presiden Najibullah didukung Sovyet yang sedang berkuasa, Nick sempat membuat rumah singgah (dibantu Palang Merah Norwegia, Dalai Lama, dan Putri Sadruddin Aga Khan, serta masyarakat internasional yang terketuk hatinya) untuk anak-anak yatim piatu di sana. Nick mengusahakan sedemikian rupa agar rumah tersebut aman bagi anak-anak malang itu, karena peperangan di luar sana begitu menakutkan. Barulah kemudian Satar datang ke rumah itu diantar oleh seseorang, ia ditelantarkan ayahnya karena cacat. Ibunya meninggal ketika melahirkan adiknya.



Nick selalu kembali mengunjungi Afghanistan meski tak sedang bertugas. Meski lahir dan berkantor di Inggris, Nick yang saat itu masih lajang tak memiliki rumah di sana.. Setiap cuti, ia pun terbang ke Afghanistan mengunjungi anak-anak malang itu. Ia berusaha mencarikan orang tua asuh bagi mereka.. satu demi satu, anak-anak itu mendapatkan orang tua asuh.. tinggal Khadija, Farishta dan Satar yang belum memiliki orang tua. Mereka seperti anak-anak yang tidak diinginkan.. Nick pun berhenti mencarikan orang tua asuh bagi mereka, karena ia yang akan mengurusnya ditemani beberapa temannya dari Palang Merah Inggris.





Tahun pertama Nick hidup bersama ketiga anak itu, tak pernah terbayangkan olehnya suatu hari nanti ia akan mengadopsi mereka dan membawanya keluar dari Afghanistan. Nick tak pernah tinggal menetap di satu tempat, dirinya mengaku kurang punya rasa tanggung jawab terhadap orang lain, ia terbiasa hidup sendiri. Waktunya habis di luar negeri dan di atas pesawat terbang. Baru saja tiba di Kabul, ia sudah mendapat tugas ke Paris. Dari Paris, ia musti terbang ke Kurdhistan, lalu ke Guatemala. Tapi sejauh-jauhnya pergi, Nick selalu berkeinginan kembali ke Afghanistan untuk bertemu teman-temannya dan ketiga anak asuhnya itu.



Dua tahun kemudian, keadaan menjadi lebih buruk bagi Khadija, Farishta dan Satar.. Kelompok Mujahidin mengambil alih Kabul, masyarakat Afghanistan menjadi terpecah belah.. tembak menembak jadi pemandangan sehari-hari. Sepuluh ribu orang terbunuh dan terluka.. ratusan ribu penduduk mengungsi meninggalkan ibukota. Kelompok Mujahidin itu pun sempat mengobrak-abrik rumah Nick dan teman-temannya yang dulu aman menampung anak-anak malang itu. Hingga akhirnya diambil alih untuk dijadikan markas Mujahidin. Dan Ketiga anak malang itu pun harus kembali ke rumah lamanya, asrama yatim piatu yang menyedihkan itu. Mereka tinggal di sana selama 20 hari, beberapa kali menyaksikan peristiwa tragis di hadapan mata mereka sendiri; orang dibunuh dan disiksa, perempuan diperkosa.. dan seorang teman mereka yang buta ditembak karena berusaha melarikan diri..



Saat malam tiba, mereka hanya tidur dengan selimut tipis di tengah deru angin dingin yang berhembus hingga menembus tulang dari jendela yang ditutup plastik tipis karena kacanya pecah.. Tak ada lagi tawa ceria, mereka semakin pendiam.. setiap diajak bicara, yang keluar hanyalah mimpi-mimpi mereka.. Khadija ingin memiliki gaun yang indah dan boneka yang lucu, Farishta ingin memiliki kursi dan sebuah boneka, sedangkan Satar bercita-cita menjadi Dokter atau guru.. Nick tersentuh hatinya, dirinya tak tahan dengan penderitaan mereka. Tiba-tiba saja terbersit keinginannya untuk membawa mereka keluar dari peperangan itu.



Nick kemudian mendiskusikan keinginannya itu dengan orang tuanya di Inggris, teman-temannya yang orang Afghanistan, serta teman-teman sesama orang asing yang tinggal di Afghanistan. Upaya merealisasikan keinginannya itu tentu saja tak mudah.. maka Nick pun meminta pertolongan Presiden Afghanistan, Prof. Rabbani.. Gayung pun bersambut.. Prof. Rabbani menyambut baik keinginannya dan berjanji akan membantunya.



Maret 1995, Khadija, Farishta, dan Satar keluar dari rumah yatim piatu. Mereka masing-masing mendapat uang 10.000 ribu Afghanis yang hanya bisa membeli beberapa potong roti saja. Mereka pun tak membawa secuil pakaian kecuali yang mereka pakai..



Bulan September 1995, bersama sahabatnya yang bekerja di Palang Merah, Nick membawa ketiga anak malang itu berlibur ke Desa Panjshir, sebelah Utara Kabul.. Dua minggu kemudian Nick kembali ke Inggris. Ia belum bisa membawa serta ketiga anak itu, karena dokumennya belum selesai.. namun akhirnya penantian itu pun berakhir, Nick dapat membawa mereka keluar dari Afghanistan dibantu teman-temannya dari berbagai negara.. Nick memutuskan untuk tinggal bersama ketiga anak adopsinya itu di lingkungan yang tidak rasialis.. dan ia pun memilih menetap di Monaco sebagai Negara yang memenuhi semua kriterianya itu..



Di saat luang, kedua anak gadis itu senang berenang.. Farishta lebih senang berenang di laut daripada di kolam renang.. Saat pertama kali ketiga anak itu melihat laut, tiga pasang mata mereka tak lepas memandangnya.. Negeri mereka memang tidak berbatasan dengan laut.. Farishta bahkan sempat bertanya pada Nick dengan penuh antusias, "Daddy, siapa yang mendorong air laut itu sampai bergulung-gulung begitu?"



Begitulah kisah manis akhirnya dapat mereka rengkuh selepas dari jeratan Afghanistan melalui ketulusan hati Nick dibantu teman-temannya dari dunia Internasional.. Dan, setelah sekian lama melajang, kini Nick ternyata sudah menikah dan memiliki anak-anak biologisnya..





Terlihat di foto atas, Khadija (kiri) kini sudah dewasa.. (Foto yang saya lihat di majalah Femina yang saya baca itu, Khadija masih berumur 12 tahun)



Kisah pilu mereka berakhir, tapi Afghanistan masih carut marut.. Kelompok fundamentalis telah menggadaikan akal sehat, kedamaian dan kesejahteraan umat demi harga yang tidak sepadan.. Pada akhirnya carut marut Afghanistan hanya menjadi objek kepentingan pihak tertentu.


pics taken from : pic. 1, pic. 2, pic. 3, pic. 4


Friday, July 25, 2008

Gay, Lesbian, dan Posmodernisme



Posmodernisme adalah gerakan kebudayaan pada umumnya yang dicirikan oleh penentangan terhadap totalitarianisme dan universalisme, serta kecenderungannya ke arah keanekaragaman, ke arah melimpah-ruah dan tumpang-tindihnya berbagai citraan dan gaya, sehingga menimbulkan fragmentasi, kontradiksi dan pendangkalan makna kebudayaan.

Salah satu ciri posmodernisme adalah keberadaan gender yang tak lagi dibagi menjadi dua golongan; "wanita" dan "laki-laki", tetapi ada juga "gay", serta "lesbian". Fenomena tsb. kini makin kentara, bagaimana kaum homosexual memperjuangkan existensinya sebagai makhluk yang juga "normal" seperti halnya kaum dengan label "perempuan" dan "laki-laki".

Kaum homoseksual -yang dalam kebudayaan "formal" (kalo boleh saya bilang) dan juga perspektif agama apa pun dipandang sebagai anomaly dan "dosa"- kini makin gencar menuntut haknya untuk diperlakukan dan dipandang sama normalnya dengan kaum normal lainnya; "perempuan" dan "laki-laki". Tuntutan itu juga tak hanya disuarakan oleh kaum homoseksual saja, tapi juga oleh kaum heteroseksual baik "laki-laki" maupun "perempuan". Sebagian dari mereka yang notabene kaum heteroseksual turut memperjuangkan hak hidup kaum homoseksual untuk diperlakukan sama, tidak didiskriminasi.

Beberapa episode "The Oprah Winprey Show" misalnya, pernah menyajikan topik seputar homoseksual atau transgender.. bagaimana seorang ayah yang beralih gender menjadi seorang wanita, sehingga anak-anaknya kini tak lagi memiliki seorang Ibu, melainkan dua orang Ibu biologis.. Atau.. bagaimana perempuan-perempuan patah hati mendapati pengakuan kekasih hatinya -pria tampan dan macho- yang ternyata menyukai sesama jenis. Ada juga seorang Ibu yang mendapati putri kesayangannya yang saat beranjak remaja menyadari dirinya seorang lesbian, dan banyak lagi kisah homoseksual lainnya. Adapun Nate, pria tampan dan ramah yang ahli menata rumah yang kerap dijadikan nara sumbernya Oprah adalah juga seorang gay.

Oprah tentu saja menyajikan topik itu karena punya muatan kontroversial. Sesuatu yang kontroversial tentunya santapan lezat media massa. Tapi, ada apa di balik semua suguhan kontroversial itu selain untuk menaikkan rating dan mendulang duit?
Tentu suguhan tsb. merupakan salah satu cara menunjukkan pada khalayak akan keberadaan kaum homoseksual. Mereka exist loo! Lalu, sikap dan tindakan seperti apa menghadapi realitas ini? Tentulah musti arif dan bijaksana ditinjau dari berbagai perspektif bukan?

Kebudayaan bisa jadi memang bisa dicampur-aduk, tumpang-tindih, direka-reka, berubah dari waktu ke waktu. Mengutip tulisannya Yasraf Amir Pilliang, bahwa riuh rendah euphoria budaya yang ditawarkan dunia baru tsb, warna-warni citraan yang disuguhkannya... Dunia baru ini tak ubahnya seperti hologram raksasa, yang menyuguhkan jutaan warna dan jutaan citra yang tampak nyata…

Tuesday, June 03, 2008

why don't we..

Ebony And Ivory Live Together In Perfect Harmony
Side By Side On My Piano Keyboard, Oh Lord, Why Don't We?

We All Know That People Are The Same Where Ever You Go
There Is Good And Bad In Ev'ryone,
We Learn To Live, We Learn To Give Each Other
What We Need To Survive Together Alive.

Ebony And Ivory Live Together In Perfect Harmony
Side By Side On My Piano Keyboard, Oh Lord Why Don't We?
Ebony, Ivory Living In Perfect Harmony
Ebony, Ivory, Ooh

Sunday, June 01, 2008

Ketika Tendangan Maut dan Bogem Mentah FPI Membabi Buta..

Lagi-lagi kekerasan…

Tak ada yang lebih memprihatinkan dari sebuah aksi penyerangan yang sarat dengan kekerasan dilakukan oleh sebuah ormas yang mengatasnamakan Islam. Sungguh sungguh memprihatinkan menyaksikan bagaimana para anggota Front Pembela Islam melancarkan kekerasan terhadap para anggota Aliansi Kebebasan Beragama. Islam sebagai agama yang sangat menjunjung tinggi perdamaian, toleransi, dan perbedaan, digunakan sebagai penjustifikasian terhadap aksi brutalisme menyerang pihak yang tidak sepaham.

Bukankah Al-Quran menyerukan untuk tidak memaksa orang dalam urusan agama dan bahkan lebih mengutamakan sikap hormat dalam kehidupan beragama:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Q.S. 49:13

Seterdesak apakah gerangan para anggota FPI sehingga harus melakukan penyerangan yang sarat dengan kekerasan dan brutal seperti itu? Sungguh saya tidak menemukan alasan yang masuk akal di balik penyerangan brutal itu.

Muhammad sebagai Nabi junjungan umat Muslim di seluruh jagat raya tak pernah memberi ‘teladan’ seperti itu. Berkenaan dengan pluralisme, Nabi bersikap dengan suatu penghormatan kepada sesama seperti yang diperintahkan Tuhan. Sikap penghormatan itu didasarkan pada hubungan saling mengenal yang bersifat egaliter, hubungan yang bersifat horizontal dan setara. Hanya Tuhan yang mengetahui apa yang tersimpan di hati seseorang dan seberapa dalam kesalehan seseorang. (Tariq Ramadan)

Seperti halnya dengan tradisi spiritual dan keagamaan, seruan untuk bertemu, berbagi, dan hidup bersama harus selalu didasarkan pada tiga persyaratan berikut: berusaha mengenal satu sama lain, tetap bersikap tulus dan jujur selama bertemu dan berdebat, dan akhirnya, berusaha rendah hati menyangkut klaim kebenaran masing-masing. Itulah ajaran Nabi dalam berhubungan dengan orang-orang beriman dari agama lain. Ada pun argumentasi yang diketengahkan Nabi dilandasi oleh pengetahuan, ketulusan, dan kerendah hatian, yang menjadi tiga syarat penghormatan. (Tariq Ramadan)

Begitulah suasana co-exist tercipta di zaman Rasul. Perbedaan bukan dihadapi dengan aksi-aksi menyerang secara brutal dan tidak manusiawi.

Sungguh teramat memprihatinkan aksi kekerasan dan brutal semacam itu dilakukan atas nama Islam! Allah SWT tidak memerlukan “pembelaan” brutal seperti itu!