Wednesday, October 01, 2008

Selamat Lebaran 1429 H

Do not judge the book by its cover.. tak ada maksud lain selain ingin mengucapkan:

Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri 1429 H.

Mohon Maaf Lahir & Batin.

(*Foto ini dikasih temen saya Agung..)

| -->non blogger

Friday, September 05, 2008

UNTUNG TUHAN BUKAN MANUSIA

Manusia selalu merasa takjub dengan dirinya sendiri

Karena ia telah rajin beribadah; sholatnya tidak bolong-bolong,

Rajin berdzikir, tahajud, serta puasa Senin-Kamis, rajin pula sholat dhuha, Bersedekah pun kerap ia laksanakan..

Namun ketakjubannya terhadap ibadah-ibadah yang t’lah ditunaikannya

lantas malah menjadi ‘hijab’ dari kejernihan dan kesucian hatinya.

Ketakjubannya membuat dirinya merasa menjadi yang paling “Maha”; memposisikan dirinya Sejajar dengan penciptanya..

bedanya menusia menganggap enteng, sepele, merendahkan, menyalahkan sesamanya yang dianggapnya salah.. seolah tak ada yang lebih berhak mengadili selain dirinya yang amat taat dan patuh beribadah..

Untunglah Tuhan bukan manusia..

Tuhan masih akan tetap tak berpaling pada hambanya yang urakan..

Bahkan bajingan sekali pun.

Dengan ke maha sempurnaannya, tuhan tak pernah merendahkan manusia yang nyata-nyata lebih rendah derajatnya..

Tuhan memberi kesempatan pada bajingan sekali pun untuk berbuat kebaikan..

(bandung 5 september 2008)

“kau tak pernah tak hadir, sehingga aku perlu merencanakan bertemu dengan-mu

tak pula kau tersembunyi, sehingga ku harus mencari-mu.”

-furuqi busthami-

| -->non blogger

Friday, July 25, 2008

Gay, Lesbian, dan Posmodernisme



Posmodernisme adalah gerakan kebudayaan pada umumnya yang dicirikan oleh penentangan terhadap totalitarianisme dan universalisme, serta kecenderungannya ke arah keanekaragaman, ke arah melimpah-ruah dan tumpang-tindihnya berbagai citraan dan gaya, sehingga menimbulkan fragmentasi, kontradiksi dan pendangkalan makna kebudayaan.

Salah satu ciri posmodernisme adalah keberadaan gender yang tak lagi dibagi menjadi dua golongan; "wanita" dan "laki-laki", tetapi ada juga "gay", serta "lesbian". Fenomena tsb. kini makin kentara, bagaimana kaum homosexual memperjuangkan existensinya sebagai makhluk yang juga "normal" seperti halnya kaum dengan label "perempuan" dan "laki-laki".

Kaum homoseksual -yang dalam kebudayaan "formal" (kalo boleh saya bilang) dan juga perspektif agama apa pun dipandang sebagai anomaly dan "dosa"- kini makin gencar menuntut haknya untuk diperlakukan dan dipandang sama normalnya dengan kaum normal lainnya; "perempuan" dan "laki-laki". Tuntutan itu juga tak hanya disuarakan oleh kaum homoseksual saja, tapi juga oleh kaum heteroseksual baik "laki-laki" maupun "perempuan". Sebagian dari mereka yang notabene kaum heteroseksual turut memperjuangkan hak hidup kaum homoseksual untuk diperlakukan sama, tidak didiskriminasi.

Beberapa episode "The Oprah Winprey Show" misalnya, pernah menyajikan topik seputar homoseksual atau transgender.. bagaimana seorang ayah yang beralih gender menjadi seorang wanita, sehingga anak-anaknya kini tak lagi memiliki seorang Ibu, melainkan dua orang Ibu biologis.. Atau.. bagaimana perempuan-perempuan patah hati mendapati pengakuan kekasih hatinya -pria tampan dan macho- yang ternyata menyukai sesama jenis. Ada juga seorang Ibu yang mendapati putri kesayangannya yang saat beranjak remaja menyadari dirinya seorang lesbian, dan banyak lagi kisah homoseksual lainnya. Adapun Nate, pria tampan dan ramah yang ahli menata rumah yang kerap dijadikan nara sumbernya Oprah adalah juga seorang gay.

Oprah tentu saja menyajikan topik itu karena punya muatan kontroversial. Sesuatu yang kontroversial tentunya santapan lezat media massa. Tapi, ada apa di balik semua suguhan kontroversial itu selain untuk menaikkan rating dan mendulang duit?
Tentu suguhan tsb. merupakan salah satu cara menunjukkan pada khalayak akan keberadaan kaum homoseksual. Mereka exist loo! Lalu, sikap dan tindakan seperti apa menghadapi realitas ini? Tentulah musti arif dan bijaksana ditinjau dari berbagai perspektif bukan?

Kebudayaan bisa jadi memang bisa dicampur-aduk, tumpang-tindih, direka-reka, berubah dari waktu ke waktu. Mengutip tulisannya Yasraf Amir Pilliang, bahwa riuh rendah euphoria budaya yang ditawarkan dunia baru tsb, warna-warni citraan yang disuguhkannya... Dunia baru ini tak ubahnya seperti hologram raksasa, yang menyuguhkan jutaan warna dan jutaan citra yang tampak nyata…

| -->non blogger

Tuesday, June 03, 2008

why don't we..

Ebony And Ivory Live Together In Perfect Harmony
Side By Side On My Piano Keyboard, Oh Lord, Why Don't We?

We All Know That People Are The Same Where Ever You Go
There Is Good And Bad In Ev'ryone,
We Learn To Live, We Learn To Give Each Other
What We Need To Survive Together Alive.

Ebony And Ivory Live Together In Perfect Harmony
Side By Side On My Piano Keyboard, Oh Lord Why Don't We?
Ebony, Ivory Living In Perfect Harmony
Ebony, Ivory, Ooh

| -->non blogger

Sunday, June 01, 2008

Ketika Tendangan Maut dan Bogem Mentah FPI Membabi Buta..

Lagi-lagi kekerasan…

Tak ada yang lebih memprihatinkan dari sebuah aksi penyerangan yang sarat dengan kekerasan dilakukan oleh sebuah ormas yang mengatasnamakan Islam. Sungguh sungguh memprihatinkan menyaksikan bagaimana para anggota Front Pembela Islam melancarkan kekerasan terhadap para anggota Aliansi Kebebasan Beragama. Islam sebagai agama yang sangat menjunjung tinggi perdamaian, toleransi, dan perbedaan, digunakan sebagai penjustifikasian terhadap aksi brutalisme menyerang pihak yang tidak sepaham.

Bukankah Al-Quran menyerukan untuk tidak memaksa orang dalam urusan agama dan bahkan lebih mengutamakan sikap hormat dalam kehidupan beragama:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Q.S. 49:13

Seterdesak apakah gerangan para anggota FPI sehingga harus melakukan penyerangan yang sarat dengan kekerasan dan brutal seperti itu? Sungguh saya tidak menemukan alasan yang masuk akal di balik penyerangan brutal itu.

Muhammad sebagai Nabi junjungan umat Muslim di seluruh jagat raya tak pernah memberi ‘teladan’ seperti itu. Berkenaan dengan pluralisme, Nabi bersikap dengan suatu penghormatan kepada sesama seperti yang diperintahkan Tuhan. Sikap penghormatan itu didasarkan pada hubungan saling mengenal yang bersifat egaliter, hubungan yang bersifat horizontal dan setara. Hanya Tuhan yang mengetahui apa yang tersimpan di hati seseorang dan seberapa dalam kesalehan seseorang. (Tariq Ramadan)

Seperti halnya dengan tradisi spiritual dan keagamaan, seruan untuk bertemu, berbagi, dan hidup bersama harus selalu didasarkan pada tiga persyaratan berikut: berusaha mengenal satu sama lain, tetap bersikap tulus dan jujur selama bertemu dan berdebat, dan akhirnya, berusaha rendah hati menyangkut klaim kebenaran masing-masing. Itulah ajaran Nabi dalam berhubungan dengan orang-orang beriman dari agama lain. Ada pun argumentasi yang diketengahkan Nabi dilandasi oleh pengetahuan, ketulusan, dan kerendah hatian, yang menjadi tiga syarat penghormatan. (Tariq Ramadan)

Begitulah suasana co-exist tercipta di zaman Rasul. Perbedaan bukan dihadapi dengan aksi-aksi menyerang secara brutal dan tidak manusiawi.

Sungguh teramat memprihatinkan aksi kekerasan dan brutal semacam itu dilakukan atas nama Islam! Allah SWT tidak memerlukan “pembelaan” brutal seperti itu!

| -->non blogger

Thursday, May 29, 2008

Mahasiswa atau Preman???!!

Sebagai salah satu aksi demo menolak kenaikan BBM, gerombolan mahasiswa menyetop kendaraan plat merah yang kebetulan lewat di hadapan mereka. Beberapa di antaranya menaiki kap mobil, lalu menginjak-injak dan memukul-mukul badan mobil nahas itu sambil berteriak-teriak. Tak cukup begitu aksi corat-coret pun dilancarkan mereka tak kalah beringasnya. Mobil yang dibeli dengan duit rakyat itu pun kini bergrafity. Tulisan “milik rakyat” tertera di hampir seluruh badan mobil.

Seorang bocah lelaki yang kebetulan berada di dalam mobil tsb. terlihat begitu shock dan ketakutan menyaksikan kakak-kakak mahasiswa (atau preman?) itu beraksi. Bocah itu duduk di depan, di samping pengemudi mobil, dengan sangat jelas ia melihat bagaimana kakak-kakak mahasiswa (atau preman?) itu melancarkan aksi premanisme-nya. Sang bocah hanya diam dalam ketakutannya yang amat sangat, mungkin ia berharap ‘mimpi buruk’ itu segera berakhir. Begitu pun dengan sang pengemudi, ia hanya diam dengan raut wajah menahan takut.

Demo pasca BBM naik yang dilancarkan mahasiswa (atau preman?) kerap diberitakan di berbagai media. Alih-alih antusias menyimak, malah makin bikin muak. Gatal rasanya jemari ini untuk segera memindahkan channel ke acara lain yang tidak sedang menyuguhkan berita seputar “wacky crazy actions” para mahasiswa (atau preman?) itu.
Kenaikan BBM sudah amat menyesakkan, kini aksi demo premanisme yang dilancarkan mahasiswa (atau premaan?) makin bikin perut mual. Apa gerangan yang ada di kepala mahasiswa-mahasiswa (atau premaaannn?) itu???!!! Jujur, bahkan sebetulnya saya enggan menyebut mereka “mahasiswa”.

Lhaa.. “mahasiswa” koq begitu?

Setahu saya, saat jadi mahasiswa dulu, ada banyak bahan bacaan yang membuat kita merenungkan kehidupan ini, salah satunya menghindarkan diri dari kebodohan yang menyulut aksi premanisme yang menyengsarakan sesama umat manusia lainnya (yang nyata-nyata ngga berdosa). Ilmu itu sarat dengan etika dan moral koq.. lha perguruan tinggi itu kan gudangnya ilmu toh? Nah kalo liat mahasiswa bertindak ala preman seperti itu?? Apa lembaganya yang musti dipertanyakan? Di mana integritas tempat bernama “perguruan tinggi” itu?? Hellloooo??!!!

Ngapain sekolah tinggi-tinggi kalo hanya menghasilkan tindakan-tindakan brutal macam preman seperti itu. Kalo cuma bisa berdemo ala premanisme macam begitu sih ngga perlu sekolah tinggi-tinggi, preman kelas teri yang biasa malak di stasiun-stasiun juga bisa.. ngga perlu mengecap bangku kuliah.. Lagipula apa bedanya yang didemo dengan yang mendemo kalo sama-sama menyengsarakan umat.

Mbok ya para mahasiswa berdemolah dengan cerdas, pake akal sehat bukan dengkul.. Kalo sekedar pamer aksi premanisme begitu doang, trust me, kalian hanya buang-buang duit (ortu) aja.. Toh, bukan rahasia umum koq selulus kuliah nyari kerja itu bisa jadi ngga gampang, tapi ngga lantas kalian jadi ‘keledai’ koq.. Kalo pun nantinya jadi pengangguran sesaat, tapi ketika moral dan etika masih bersemayam dalam diri kalian, seorang pejabat dengan pangkat tinggi sekali pun kalo dia korup maka ia tak lebih dari cecunguk yang siap ‘diinjak-injak’ (tanpa perlu diinjak beneran) kaki siapa saja, bahkan kaki seorang pengangguran yang ngga pernah berhenti berusaha..

Kamu mahasiswa bukan sih???!!!!

| -->non blogger

Saturday, May 03, 2008

Arogansi Intelektual versus Ibu


…dalam sebuah kunjungan membesuk seorang kawan yang baru saja melahirkan putra pertamanya sore kemarin, tiba-tiba saja kami seolah disentil.. disadarkan akan perilaku yang bisa jadi dipandang Ibu (iya Ibu, yang melahirkan kami) sebagai sebuah arogansi..

Sang kawan bercerita panjang lebar pengalaman pertamanya melahirkan.. rasa sakit yang ia dera.. dan kami termanggut-manggut berusaha memahami, mengerti keadaannya serta sesekali bertanya hal yang belum pernah kami alami sepanjang hidup kami itu. Seorang Ibu yang juga sama-sama sedang membesuk kawan kami itu dengan cermat menyimpulkan bahwa kami adalah perempuan-perempuan lajang..

Ketidakberpengalaman kami rupanya lebih jelas menunjukkan status kami ketimbang pengetahuan yang kami dalami dari berbagai sumber untuk menghindarkan diri dari suatu alienasi akan sebuah rute yang belum kami tempuh .. Si Ibu pun mafhum.. dan ia mengingatkan bahwa dalam proses kehamilan dan melahirkan.. Kekuatan peran Ibu (iya Ibu, yang melahirkan kami) akan lebih kuat dirasakan, dan ketika itu pula kita tersadarkan kecongkakan kita, seorang anak yang baru saja mendapat pengetahuan baru tentang dunia dari ‘guru besar’ bernama bangku sekolah.. Sebuah arogansi entelektual yang mengecilkan peran Ibu (iya Ibu, yang melahirkan kami) dengan kesederhanaannya menerjemahkan kasih sayangnya yang dalam…

"Pokonya inget aja, kalo mau melahirkan kita harus sering-sering mohon maaf pada Ibu.. insya Allah lancar." Lugasnya. Kami, tiga perempuan lajang saling bertatapan.. Kami, tiga sahabat, para perempuan lajang yang membawa-bawa gagasan intelektual kerap memprotes pandangan yang kami pandang tidak moderat, kolot, yang kerap digunakan Ibu (iya Ibu, yang melahirkan kami) dalam kesederhanaannya mengungkapkan kasih sayangnya yang dalam..

Si Ibu itu pun mafhum.. ia terlihat tulus berempati pada polah kami. Belakangan aku sadari profil perempuan yang memberi wejangan itu pernah kubaca di sebuah Harian Umum.. Ia senior di fakultas kami.. Direktur sebuah penerbit buku di Bandung, yang kesuksesan karirnya tak lepas dari peran Ibu (iya Ibu, yang melahirkannya) yang dulu kerap ia protes kebijakannya, karena sebuah arogansi intelektual..
p.s. terima kasih untuk diingatkan..
pic taken from here

| -->non blogger